• Call customer service for FREE Training.

'IHSG akan tergerus Wall Street terendah 5,8 tahun'

JAKARTA (Bisnis.com): Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan melemah hari ini karena memburuknya sentimen dari eksternal, turunnya harga komoditas dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Mega Capital Indonesia menyatakan IHSG diprediksi bergerak pada kisaran 1.165-1.195 dengan target intraday support dan resistance berikutnya berada pada level 1.145-1.205.

Trimegah Securities menyatakan minimnya insentif berita positif serta masih besarnya tekanan pelemahan bursa utama regional, mengakibatkan terseretnya kembali IHSG hingga mendekati trend chanel support harga 1.150 dan gagal melakukan uji resisten harga pada level 1.185 pada perdagangan kemarin.

Apabila pada perdagangan hari ini IHSG gagal bertahan pada basis support 1.150, terbuka kembali peluang menguji batas harga bawah pada level 1.089. Dengan demikian level support 1.150 akan menjadi basis stop loss harga, untuk mengeliminir kerugian. "Kami perkirakan IHSG pada hari ini akan bergerak variatif dengan kecenderungan melemah, pada kisaran harga 1.135-1.190," tutur Trimegah.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin kembali terimbas sentimen negatif dari eksternal dan internal pada perdagangan kemarin. Hampir semua sektor melemah kecuali konsumer dan manufaktur.

Sektor pertambangan dan perdagangan mengkontribusikan pelemahan terbesar. Mayoritas bursa Asia ditutup melemah. Rupiah kembali tertekan ditutup pada level Rp11.850 per dolar AS.

Mega Capital menambahkan perdagangan saham di Wall Street AS kembali melemah tajam yang dipicu oleh meningkatnya kecemasan akan kesehatan sistem keuangan dan bertahannya industri otomotif. Saham Citigroup melemah 23% dan CDS (credit default swap) hutangnya meningkat, setelah berencana membeli aset investment fund bermasalah senilai US$17,4 miliar.

Menambah sentimen negatif di sektor keuangan, obligasi dengan eksposure pada real estat komersial melemah karena kekhawatiran
memburuknya ekonomi akan menimbulkan banyak gagal bayar pada pinjaman di sektor gedung perkantoran, ritel dan hotel. Pasar juga mencemaskan ketidakpastian program bail out untuk industri otomotif senilai US$25 miliar.

Terdapat 14 perusahaan di indeks S&P 500 melemah lebih dari 20% setelah data pemerintah mengindikasikan dalamnya resesi dan tumbuhnya ekspektasi bahwa akan lebih banyak insurer yang mencatatkan kerugian investasi. Penurunan indeks di bursa Wall Street juga mengikuti pelemahan di bursa Asia dan Eropa karena bertambahnya kekhawatiran perlambatan ekonomi akan memangkas laba pada perusahaan finansial dan komoditas.

Dalam FOMC Minutes pada 29 Oktober lalu, Fed memprediksi ekonomi AS akan mengalami kontraksi pada semester II 2008 dan berlanjut hingga semester 1 2009 serta resiko perlambatan ekonomi meningkat. Hal ini akan menjadi resesi terlama sejak resesi 16 bulan pada tahun 1981-1982. Fed juga menyatakan akan melakukan segala langkah yang diperlukan untuk mendukung pemulihan ekonomi, hal ini menimbulkan persepsi di pasar akan kembali terjadi pemangkasan suku bunga oleh Fed.

Indeks Dow Jones ditutup -5,07% hingga tembus di bawah 8.000, terendah sejak Maret 2003, Nasdaq Composite dan indeks S&P 500 masing-masing -6,53% dan -6,12%. Sementara itu data building permits pada Oktober juga kembali menunjukkan penurunan. Data housing starts Oktober juga turun namun lebih baik dari estimasi.

Data indikator ekonomi tersebut membuat dolar AS melemah. Sementara itu harga minyak mentah pada pagi ini kembali melemah pada kisaran US$53,05 per barel, setelah laporan cadangan minyak strategis AS meningkat, yang semakin menekankan turunnya permintaan minyak akibat memburuknya ekonomi dengan cepat. Harga emas juga melemah dan berada pada kisaran US$735,6 per ounce pada pagi ini. Sedangkan bursa kawasan Asia pada pagi ini rata-rata melemah signifikan.