• Call customer service for FREE Training.

Sampoerna Agro Bangun Pabrik

JAKARTA, Investor Daily
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) menyiapkan sejumlah ekspansi untuk mencapai target produksi tahun depan. Salah satunya membangun pabrik pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berkapasitas    60 ton per hari.
 
“Selain ekspansi pabrik, Sampoerna Agro akan meminta izin perluasan lahan perkebunan,” kata Direktur Keuangan Sampoerna Agro Sie Eddy Kurniawan dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (19/11).
 
Eddy tidak merinci di mana pabrik CPO itu akan dibangun dan berapa nilai investasinya. Dia hanya menjelaskan, pabrik tersebut ditargetkan rampung pada kuartal III-2009.
               
Eddy juga mengungkapkan, perseroan  belum berminat mengakuisisi saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) seperti diisukan selama ini. "Sejauh ini kami belum berpikir untuk mengakuisisi Bakrie Sumatera.  Lahan kosong kami masih banyak kok yang belum digunakan,” ujarnya.
               
Dia memaparkan, Sampoerna Agro kini memiliki total lahan (kebun dan pabrik) seluas 198,85 ribu hektare (ha). Lahan yang belum tertanam mencapai 103,49 ha, sedangkan lahan tertanam 87,32 ribu ha, dengan rincian milik perseroan 45,03 ribu ha serta lahan plasma dan kemitraan 42,29 ribu ha.
 
Hingga kuartal III-2008, menurut dia, Sampoerna Agro menorehkan penjualan bersih Rp 1,85 triliun, naik 117,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sekitar Rp 856,2 miliar. Sedangkan laba bersih tumbuh 399,1% dari Rp 80,06 miliar menjadi Rp 399,53 miliar.
 
Eddy menjelaskan, hingga 30 September 2008, perseroan menggunakan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 217 miliar dari total capex yang dianggarkan pada awal tahun sebesar Rp 600 miliar. “Capex yang belum terpakai merupakan dana penambahan lahan yang hingga saat ini belum terealisasi,” ucapnya.
 
Managing Director Sampoerna Agro Yasin Chandra memaparkan, biaya produksi untuk pembelian pupuk di Kalimantan mencapai 29,9%. Sedangkan di Sumatera hanya 9,9%. “Perbedaan struktur biaya tersebut terjadi akibat komposisi rasio inti dan plasma atau kemitraan yang tidak sama di masing-masing wilayah,” katanya. (jun)