• 3rd Hots Contest! Rp 500 juta dan Blackberry!

BHP Billiton, Bumerang BUMI

Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (3/7) diprediksi melemah. Kesiapan emiten batubara thermal ini untuk mengakuisi unit tambang batubara milik BHP Billiton di Kalimantan, ditengarai sebagai pemicu sentimen negatif. BUMI direkomendasikan hold.

Adrianus Bias Prasuryo, Technical Analist eTrading Securities, mengatakan pelemahan saham BUMI terjadi seiring sentimen negatif dari kabar rencana perseroan yang siap mengakuisisi tambang batubara milik BHP Billiton di Kalimantan.

Menurutnya, pelaku pasar menilai negatif karena pada dasarnya BUMI belum memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk membeli perusahan tambang lagi, menyusul tiga akuisisi sebelumnya. “Karena itu, BUMI berpotensi melemah Jumat ini,” kata Bias kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (2/7) malam.

Bias memprediksikan saham BUMI akan bergerak pada kisaran Rp 1.780 hingga Rp 1.850-an. Kalaupun naik, tidak akan melampau level ini. Namun ia meyakini BUMI lebih cenderung melemah dari pada menguat. “Level support pertama ada di Rp 1.800 dan support berikutnya ada di Rp 1.670,” ujarnya.

Ia menegaskan level support Rp 1.800 sangat potensial bisa ditembus dan mengarah ke level support berikutnya, Rp 1.670. “Saya rekomendasikan untuk BUMI, hold,” paparnya.

Pada penutupan perdagangan Kamis (2/7), saham BUMI ditransaksikan melemah 40 poin (2,12%) dibadingkan sebelumnya pada level Rp 1.880. Harga tertingginya mencapai Rp 1.900 dan harga terendahnya Rp 1.830. Sedangkan volume transaksi mencapai mencapai 239,9 juta unit senilai Rp 446,8 miliar dan frekuensi 4.825 kali.

Lebih lanjut, Bias menegaskan akuisisi BUMI atas BHP Billiton membahayakan sistem keuangan BUMI dalam jangka pendek. Apalagi, jika emiten batubara ini benar-benar mengakuisisi tambang ini. “Karena, dari segi kemampuan finansial internal seperti kas, sudah terbatas,” imbuhnya.

Karena itu, sudah dipastikan BUMI akan membiayainya dengan utang. Hal itu, akan semakin memberatkan ballance sheet perseroan. “Itu masalah utamanya,” tandasnya.

Sebelumnya, Senior Vice Presiden BUMI, Dileep Srivastava dalam pesan tertulisnya kepada INILAH.COM membeberkan, saat ini BUMI telah menunjukkan minatnya untuk memiliki unit tambang batubara BHP Billiton. “BUMI tinggal menunggu persetujuan dari manajeman BHP Billiton,” katanya.

BUMI juga telah menyiapkan dana sebesar US$ 400 juta hingga US$ 1 miliar untuk penambangan emas di daerah Sulawesi. Dileep menyatakan penambangan tersebut sudah direncanakan perseroan sejak 2005 usai perseroan membelinya dari Rio Tinto/Newcrest dan BHP Billiton.

“Hingga kini, masih dalam proses pengeboran,” ungkapnya.

Adrianus Bias Prasuryo kembali menilai, penambangan emas di Sulawesi masih merupakan poin jangka panjang. Menurutnya, dalam satu hingga dua tahun ke depan, lebih bijak bila BUMI masih konsentrasi pada sektor batubaranya. “Fokus pada operasional intinya di tambang batubara,” paparnya.

Sentimen negatif lain adalah kekecewaan investor terhadap dividen emiten sejuta umat ini yang terlalu kecil, Rp 50/unit. Menurutnya, sentimen market sendiri lebih cenderung ke hasil RUPS yang menetapkan dividen hanya Rp 50/unit. “Selain itu, secara teknikal BUMI memang berada dalam tren bearish jangka pendek, konsolidasi,” ucapnya.

Sementara itu, harga minyak yang sekarang berada pada level US$ 70, menurut Bias tidak berpengaruh pada pergerakan BUMI. Pasalnya, harga minyak mentah dunia saat ini sudah terfaktorkan hampir di semua perusahaan di BEI. Kisaran minyak pada level ini sudah terjadi lebih dari sepekan terakhir. “Jadi memang sudah terfaktorkan,” pungkasnya.

<Bergabunglah dengan  Broker Saham eTrading Securities,
The Most Powerfull Online Stocks Trading Gallery>