• 3rd Hots Contest! Rp 500 juta dan Blackberry!

Cermati TRIM, ANTM, SMGR, PGAS, TLKM dan BMRI

JAKARTA (bisnis.com): Harga saham sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini setidaknya akan terpengaruh kondisi keuangan, aksi korporasi, maupun berita-berita seputar perusahaan seperti TRIM,  GZCO, ANTM, PTBA, TINS, SMGR, PGAS, TLKM, BBRI dan BMRI.

Tiga pemodal institusi mengincar 26,51% saham PT Trimegah Securities Tbk (TRIM), yang akan dijual oleh pemiliknya Spinnaker Fund melalui Demerara Limited. Seorang eksekutif yang mendengar informasi itu mengatakan tiga pemodal institusi itu adalah OCBC Bank Singapura, Maybank Malaysia, dan Northstar Pacific Partners yang didirikan oleh bankir investasi Patrick Walujo.

"Dari beberapa calon pemodal, tiga pemodal institusi itu yang paling serius dan berminat untuk membeli saham Trimegah yang kini dimiliki oleh Spinnaker," ujarnya kepada bisnis.com belum lama ini.

Harga saham Trimegah ditutup turun 6,49% atau Rp10 ke level Rp144 kemarin, menjadikannya bernilai kapitalisasi pasar Rp526,32 miliar. Dengan asumsi harga saham Trimegah dilepas di harga pasar saat ini Rp144, Spinnaker berpotensi mengantongi Rp139,53 miliar dana tunai dari salah satu calon pembeli saham tersebut.

PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) membukukan laba bersih selama 2009 sebesar Rp203 miliar, atau naik 270,77% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp54,75 miliar.

Presiden Direktur Gozco Plantations Tjandra Gozali menuturkan melonjaknya pendapatan itu salah satunya disumbang oleh PT Palmia Sejahtera yang diakuisisi tahun lalu. Perusahaan yang diakuisisi tersebut berkontribusi sebesar Rp50 miliar terhadap laba bersih. "Pendapatan kami selama 2009 mencapai Rp407 miliar, naik dibandingkan dengan 2008 sebesar Rp290 miliar. Kenaikan pendapatan disebabkan oleh bertambahnya lahan yang menghasilkan CPO [crude palm oil/minyak kelapa sawit mentah]," ujarnya kemarin.

Menurut Tjandra, perseroan tahun ini menargetkan pendapatan di atas Rp500 miliar, seiring dengan pertambahan lahan yang sudah menghasilkan. Di samping ekspansi bisnis lain yang dijalankan oleh perseroan. Sementara itu, laba bersih diproyeksikan bisa naik menjadi Rp250 miliar atau naik 23,15% dibandingkan dengan perolehan 2009.

Harga komoditas boleh bergejolak, imbas krisis finansial global masih menerpa, tetapi sebagian besar emiten milik pemerintah menunjukkan kinerja positif. Analis berpendapat ini adalah buah manis reformasi di tubuh BUMN, tetapi upaya efisiensi masih diperlukan.

Delapan emiten BUMN diperkirakan membukukan laba bersih Rp33,24 triliun pada akhir 2009, atau naik sekitar 12,83% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp29,46 triliun. Data perkiraan enam emiten yang bergerak dalam bisnis pertambangan, infrastruktur dan telekomunikasi dirilis Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Adapun dua emiten perbankan berasal dari indikasi masing-masing manajemen.

Enam emiten BUMN tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), serta PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom/TLKM). Dua emiten perbankan yakni  PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Bukit Asam (PTBA) selama 2009 diperkirakan meraup laba bersih Rp2,8 triliun, atau naik 63,7 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,7 triliun. Sahala mengungkapkan kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh perbaikan harga komoditas batu bara di pasar internasional. "Untuk pendapatan Bukit Asam, kami memperkirakan Rp8,94 triliun atau naik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp7,21 triliun," ujarnya.

Untuk Antam (ANTM), perseroan diperkirakan catat laba bersih sebesar Rp371 miliar pada 2009, atau anjlok sebesar 72,9% jika dibandingkan dengan laba bersih pada akhir 2008 sebesar Rp1,36 triliun. Penurunan laba bersih disebabkan oleh harga rata-rata komoditas feronikel selama tahun lalu lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata selama 2008. Untuk pendapatan, perseroan mencatat Rp8,65 triliun atau turun 10% dari tahun sebelumnya.

Perusahaan Gas Negara (PGAS) diproyeksikan mencatat laba bersih pada akhir 2009 sebesar Rp4,4 triliun, atau naik 595,10% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp633,86 miliar. Direktur Utama Perusahaan Gas Hendi P. Santoso pekan lalu mengatakan jika untung kurs dihitung, jumlah laba bersih perseroan bisa tembus Rp5 triliun.

Telkom (TLKM) hingga akhir 2009 diperkirakan membukukan laba bersih Rp9,3 triliun.

Direktur PT Finan Corpindo Edwin Sinaga menilai kenaikan kinerja BUMN, terutama yang terbuka adalah salah satu bentuk dari berjalannya reformasi di tubuh perusahaan milik pemerintah. "Selain itu, faktor harga komoditas juga sangat berpengaruh terhadap kinerja BUMN. Ke depannya kami melihat perlu kembali meningkatkan efisiensi di tubuh BUMN."

Adapun, dua bank pemerintah -merupakan bank terbesar pertama dan kedua di Indonesia- telah mengindikasikan kenaikan laba bersih tahun lalu ketika krisis finansial global masih menerpa. Bank Mandiri, memperkirakan bisa meraih laba Rp6 triliun, meningkat 8,8% dari hasil 2008 sebesar Rp5,31 triliun. "Itu menunjukkan laba kami naik 10 kali lipat dibandingkan dengan 5 tahun lalu," kata Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo.

Direktur BRI Sudaryanto Sudargo memperkirakan bank yang dikelolanya bisa mencetak peningkatan laba 10% hingga 15%. "Laba tumbuh baik di 2009, yakni meningkat rata-rata 10% hingga 15%. Sementara itu pertumbuhan kredit tumbuh 22%." (ln)

<Bergabunglah dengan  Broker Saham eTrading Securities,
The Most Powerfull Online Stocks Trading Gallery>